Dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat Indonesia salah satu kata tanya yang sering digunakan adalah Apa?
Terkadang menjadi kenapa? termasuk di Samarinda. Dalam sebuah peristiwa tepat
di jalan samping kediaman dinas Gubernur (Lamin Etam) pernah ada penumpang
mobil boks yang berlogo salah satu produk mie instant terkenal membuang bungkus
rokok dari dalam mobil tersebut ke atas jalan, kemudian salah seorang Bapak
yang cukup berumur yang mengendarai sepeda motor tua dan berseragam PNS menegur
tepat di samping mobil tersebut melalui jendela mobil tersebut. Bukannya
permintaan maaf yang keluar justru tantangan “kenapa” terucap dari pemuda di
dalam mobil tersebut.
Peristiwa yang kedua terjadi di simpang
Jl. Slamet Riyadi, Jl. RE. Martadinata, Jl. P. Antasari pada suatu malam saat
pengendara sepeda motor melaju dari Jl. Slamet Riyadi menuju Jl. RE.
Martadinata yang kebetulan saat itu lampu traffic
light berwarna hijau. Tiba-tiba sebuah mobil dari arah yang sama memutar
arah di traffic light tersebut,
dimana rambu tersebut jelas terpampang dilarang memutar, pengendara motor
tersebut akhirnya menegur pengemudi mobil tersebut karena hamper membuat celaka
pengendara motor tersebut, lagi-lagi bukan permintaan maaf tapi jawaban “apa”
seakan tidak terjadi “apa-apa”.
Dua peristiwa tersebut mungkin
hanyalah contoh kecil yang sering terjadi dalam kehidupan bermasyarakat di
Samarinda dewasa ini. Yang entah sebenarnya kedua oknum masyarakat di atas itu
tahu perbuatan keduanya keliru. Pertama, karena keduanya telah melanggar
peraturan yang bahkan telah diatur dalam peraturan perundangan. Kedua, karena
justru merasa paling benar sehingga tidak terima ditegur oleh orang lain yang
seharusnya itu adalah bahan untuk mengoreksi diri. Ketiga, mungkin keduanya
lupa bahwa Negara ini adalah Negara yang ramah.
Dalam buku Lonely Planet edisi
"1000 Ultimate Experiences", pernah mengeluarkan daftar
"Negara-negara Teramah di Dunia" dan salah satu yang masuk dalam
daftar tersebut adalah Indonesia. Sejak kecil mungkin sering didengar bahwa
Negara kita Republik Indonesia ini adalah Negara penduduknya amat sangat ramah
terhadap sesama makhluk hidup.
Sejalan waktu ada beberapa pihak yang
sudah meragukan kalimat tentang keramahan penduduk Indonesia. Namun faktanya
saat ini masih sangat banyak keramahan yang terjadi dalam kehidupan
bermasyarakat, di Samarinda khususnya, baik saling kenal maupun tidak. Masih
sering dijumpai ucapan terima kasih, masih banyak yang bersedia membantu
apabila bertanya tentang arah jalan, masih banyak yang mau membantu mendorong
mobil yang mogok, masih banyak yang membantu sat terjadi bencana. Dan yang
paling penting masih banyak bidan maupun dokter di rumah sakit yang membantu proses
persalinan, kenapa hal tersebut penting? Agar masyarakat sadar dan ingat bahwa
saat bayi dilahirkan dari rahim seorang ibu manusia tersebut belum bisa apa-apa
dan membutuhkan manusia lainnya untuk membantu proses lahirnya bayi tersebut.
Dengan seperti itu apa saat dewasa masih ingin berkata-kata dengan ucapan yang
tidak menghargai orang lain? Dengan status manusia yang merupakan makhluk
sosial, tidak bisa hidup sendiri? Tetap percaya bahwa Negara ini adalah Negara
yang ramah, hingga kapanpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar