Minggu, 18 Mei 2014

Kenapa dan Apa?




Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia salah satu kata tanya yang sering digunakan adalah Apa? Terkadang menjadi kenapa? termasuk di Samarinda. Dalam sebuah peristiwa tepat di jalan samping kediaman dinas Gubernur (Lamin Etam) pernah ada penumpang mobil boks yang berlogo salah satu produk mie instant terkenal membuang bungkus rokok dari dalam mobil tersebut ke atas jalan, kemudian salah seorang Bapak yang cukup berumur yang mengendarai sepeda motor tua dan berseragam PNS menegur tepat di samping mobil tersebut melalui jendela mobil tersebut. Bukannya permintaan maaf yang keluar justru tantangan “kenapa” terucap dari pemuda di dalam mobil tersebut.
Peristiwa yang kedua terjadi di simpang Jl. Slamet Riyadi, Jl. RE. Martadinata, Jl. P. Antasari pada suatu malam saat pengendara sepeda motor melaju dari Jl. Slamet Riyadi menuju Jl. RE. Martadinata yang kebetulan saat itu lampu traffic light berwarna hijau. Tiba-tiba sebuah mobil dari arah yang sama memutar arah di traffic light tersebut, dimana rambu tersebut jelas terpampang dilarang memutar, pengendara motor tersebut akhirnya menegur pengemudi mobil tersebut karena hamper membuat celaka pengendara motor tersebut, lagi-lagi bukan permintaan maaf tapi jawaban “apa” seakan tidak terjadi “apa-apa”.
Dua peristiwa tersebut mungkin hanyalah contoh kecil yang sering terjadi dalam kehidupan bermasyarakat di Samarinda dewasa ini. Yang entah sebenarnya kedua oknum masyarakat di atas itu tahu perbuatan keduanya keliru. Pertama, karena keduanya telah melanggar peraturan yang bahkan telah diatur dalam peraturan perundangan. Kedua, karena justru merasa paling benar sehingga tidak terima ditegur oleh orang lain yang seharusnya itu adalah bahan untuk mengoreksi diri. Ketiga, mungkin keduanya lupa bahwa Negara ini adalah Negara yang ramah.
Dalam buku Lonely Planet edisi "1000 Ultimate Experiences", pernah mengeluarkan daftar "Negara-negara Teramah di Dunia" dan salah satu yang masuk dalam daftar tersebut adalah Indonesia. Sejak kecil mungkin sering didengar bahwa Negara kita Republik Indonesia ini adalah Negara penduduknya amat sangat ramah terhadap sesama makhluk hidup.
Sejalan waktu ada beberapa pihak yang sudah meragukan kalimat tentang keramahan penduduk Indonesia. Namun faktanya saat ini masih sangat banyak keramahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, di Samarinda khususnya, baik saling kenal maupun tidak. Masih sering dijumpai ucapan terima kasih, masih banyak yang bersedia membantu apabila bertanya tentang arah jalan, masih banyak yang mau membantu mendorong mobil yang mogok, masih banyak yang membantu sat terjadi bencana. Dan yang paling penting masih banyak bidan maupun dokter di rumah sakit yang membantu proses persalinan, kenapa hal tersebut penting? Agar masyarakat sadar dan ingat bahwa saat bayi dilahirkan dari rahim seorang ibu manusia tersebut belum bisa apa-apa dan membutuhkan manusia lainnya untuk membantu proses lahirnya bayi tersebut. Dengan seperti itu apa saat dewasa masih ingin berkata-kata dengan ucapan yang tidak menghargai orang lain? Dengan status manusia yang merupakan makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri? Tetap percaya bahwa Negara ini adalah Negara yang ramah, hingga kapanpun.